Rabu, 30 September 2009

menjadi nara sumber di RRI PRO 1 Surabaya

Hari ini tepat pukul 10 siang, aku mewakili CICS (Center For Islamic and Cultural Studies) bersama mbak Hapsari dari Savi Amira menjadi pembicara di RRI PRO 1. Tema yang diangkat adalah Larangan Pengemis di Jalan Raya. Memang akhir-akhir ini banyak terlihat orang meminta-minta di jalan raya, di tempat-tempat religious, ziarah, serta yang menelusuri kampung.
Menjelang Romadhan seperti lahan basah bagi mereka. Banyak penduduk desa berbondong-bondong ke kota demi profesi sebagai pengemis. Dengan hanya mengatungkan tangan dan suara agak rintih beberapa ratus rupiah akan sampai ke tangan mereka.
Tanggal 12 Agustus MUI Sumenep mengeluarkan fatwa haram bagi pengemis. Fatwa ini mendapatkan dukungan dari MUI Jatim walaupun MUI Jatim tidak mengeluarkan Fatwa serupa. Hal ini ditenggarai oleh penelitian yang dilakukan oleh MUI Sumenep bahwa selama ini pengemis bukanlah karena alasan ketidakmampuan seseorang melainkan dijadikan lahan pekerjaan oleh sebagian oknum.
Tahun 2008, tepatnya Kamis, 12 Juni 2008 Jawa Pos telah mengorek keterangan dari seorang bos pengemis. Tentu saja tidak mudah untuk mengetahui seluk beluk seorang mafia pengemis di Surabaya. Orang ini memiliki beberapa puluh anak buah yang tersebar di seluruh Surabaya. Cukup dengan duduk manis tiap hari ia akan memeroleh penghasilan bersih 300-400 ribu rupiah. Hal inilah yang meresahkan MUI setempat hingga mengeluarkan fatwa haram.
Dua fenomena ini yang melatarbelakangi adanya dialog dengan RRI PRO 1 dengan beberapa elemen. Dari dialog ini didapatkan beberapa kesimpulan bahwa pemerintah harus berperan aktif dalam penanggulangan pengemis khususnya di kota Surabaya. Selain itu peran ulama juga diharapkan maksimal bukan hanya mengeluarkan fatwa saja.
Dalam hal ini aku agak kedodoran dalam hal wacana ini, semalam aku hanya menyiapkan pengemis dari tinjauan agama saja. Sedangkan yang dibahas seputar pengemis di jalan dan penanganannya. Okelah ini pengalaman dua kali manjadi narasumber di radio yang lumayan besar. Pertama di radio Bojonegoro dan kali ini di RRI PRO 1 Surabaya. Semoga pengalaman ini menambah jam terbangku untuk menjadi ilmuwan sosial dunia. Amiin

Selasa, 29 September 2009

Mengenal Singkat Teori Interaksionisme Simbolik (I)

Oleh Prof Dr. Riyadi Soeprapto, MS (Alm)

Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.

Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959).

Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sociological Theory (1982)[1], bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Teori ini akan berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan, interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksi sendiri dianggap sebagai unit analisis: sementara sikap-sikap diletakkan menjadi latar belakang.

Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks, lebih tak terduga, dan aktif jika dibandingkan dengan perspektif-perspektif sosiologis yang konvensional.Di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi, namun juga menangkap, menginterpretasi, bertindak, dan mencipta. Individu bukanlah sekelompok sifat, namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah, yang selalu berada dalam proses menjadi dan tak pernah selesai terbentuk sepenuhnya.

Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia.

Makna-makna itu kita bagi bersama yang lain, definisi kita mengenai dunia sosial dan persepsi kita mengenai, dan respon kita terhadap, realitas muncul dalam proses interaksi.[2] Herbert Blumer, sebagaimana dikutip oleh Abraham (1982)[3] salah satu arsitek utama dari interaksionisme simbolik menyatakan: Istilah ‘interaksi simbolik’ tentu saja menunjuk pada sifat khusus dan khas dari interaksi yang berlangsung antar manusia. Kekhususan itu terutama dalam fakta bahwa manusia menginterpretasikan atau ‘mendefinsikan’ tindakan satu sama lain dan tidak semata-mata bereaksi atas tindakan satu sama lain.

Jadi, interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Mediasi ini ekuivalen dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia.Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian ke arah dengan bahasa; namun Mead mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.

Semua interaksi antarindividu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antarindividu, dan bagaimana hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.[4]

Gagasan Teori Interaksionisme SimbolikIstilah paham interaksi menjadi sebuah label untuk sebuah pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia. Banyak ilmuwan yang telah menggunakan pendekatan tersebut dan memberikan kontribusi intelektualnya, di antaranya George Herbert Mead, John Dewey, W.I Thomas, Robert E.Park, William James, Charles Horton Cooley, Florian Znaniceki, James Mark Baldwin, Robert Redfield dan Louis Wirth. Teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the self) dan dunia luarnya. Di sini Cooley menyebutnya sebagai looking glass self.

Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu. Ada tiga premis utama dalam teori interaksionisme simbolis ini, yakni manusia bertindak berdasarkan makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain; makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.Menurut KJ Veeger[5] yang mengutip pendapat Herbert Blumer, teori interaksionisme simbolik memiliki beberapa gagasan. Di antaranya adalah mengenai Konsep Diri.

Di sini dikatakan bahwa manusia bukanlah satu-satunya yang bergerak di bawah pengaruh perangsang entah dari luar atau dalam melainkan dari organisme yang sadar akan dirinya (an organism having self). Kemudian gagasan Konsep Perbuatan di mana perbuatan manusia dibentuk dalam dan melalui proses interaksi dengan dirinya sendiri. Dan perbuatan ini sama sekali berlainan dengan perbuatan-perbuatan lain yang bukan makhluk manusia. Kemudian Konsep Obyek di mana manusia diniscayakan hidup di tengah-tengah obyek yang ada, yakni manusia-manusia lainnya.

Selanjutnya Konsep Interaksi Sosial di mana di sini proses pengambilan peran sangatlah penting. Yang terakhir adalah Konsep Joint Action di mana di sini aksi kolektif yang lahir atas perbuatan-perbuatan masing-masing individu yang disesuaikan satu sama lain.Menurut Soeprapto (2001),[6] hanya sedikit ahli yang menilai bahwa ada yang salah dalam dasar pemikiran yang pertama. “Arti” (mean) dianggap sudah semestinya begitu, sehingga tersisih dan dianggap tidak penting. “Arti” dianggap sebagai sebuah interaksi netral antara faktor-faktor yang bertanggungjawab pada tingkah laku manusia, sedangkan ‘tingkah laku’ adalah hasil dari beberapa faktor. Kita bisa melihatnya dalam ilmu psikologi sosial saat ini. Posisi teori interaksionisme simbolis adalah sebaliknya, bahwa arti yang dimiliki benda-benda untuk manusia adalah berpusat dalam kebenaran manusia itu sendiri.

Dari sini kita bisa membedakan teori interaksionisme simbolis dengan teori-teori lainnya, yakni secara jelas melihat arti dasar pemikiran kedua yang mengacu pada sumber dari arti tersebut.Teori interaksionisme simbolis memandang bahwa “arti” muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. Arti dari sebuah benda untuk seseorang tumbuh dari cara-cara di mana orang lain bersikap terhadap orang tersebut. Sehingga interaksi simbolis memandang “arti” sebagai produk sosial; Sebagai kreasi-kreasi yang terbentuk melalui aktifitas yang terdefinisi dari individu saat mereka berinteraksi.

Pandangan ini meletakkan teori interaksionisme simbolis pada posisi yang sangat jelas, dengan implikasi yang cukup dalam. Tokoh-tokoh Teori Interaksionisme Simbolik.

Mengikuti penjelasan Abraham (1982)[7], Charles Horton Cooley adalah tokoh yang amat penting dalam teori ini. Pemikiran sosial Cooley terdiri atas dua asumsi yang mendalam dan abadi mengenai hakikat dari kehidupan sosial, yaitu bahwa kehidupan sosial secara fundamental merupakan sebuah evolusi organik, dan bahwa masyarakat itu secara ideal bersifat demokratis, moral, dan progresif. Konsep evolusi organik-nya Cooley berbeda secara hakiki dari konsepnya Spencer dan para ilmuwan sosial abad kesembilanbelas.

Sementara para pemikir yang lebih awal memusatkan diri pada aspek-aspek kolektif yang berskala-besar dari pembangunan, dari perjuangan kelas, dari lembaga sosial dan sebagainya, di sini Cooley berusaha mendapatkan sebuah pemehaman yang lebih mendalam mengenai individu namun bukan sebagai entitas yang terpisah dari masyarakat, namun sebagai sebuah bagian psiko-sosial dan historis dari bahan-bahan penyusun masyarakat. “Kehidupan kita adalah satu satu kehidupan manusia secara keseluruhan,” kata Cooley, “dan jika kita ingin memiliki pengetahuan yang riil atas diri individu, maka kita harus memandang individu secara demikian. Jika kita melihatnya secara terpisah, maka proses pengetahuan kita atas diri individu akan gagal.”

Jadi, evolusi organik adalah interplay yang kreatif baik individu maupun masyarakat sebagai dua wujud dari satu fenomena yang sama, yang saling menegaskan dan beriringan meski tetap masih bisa dibedakan. ”Masyarakat adalah sebuah proses saling berjalinnya dan saling bekerjanya diri-diri yang bersifat mental (mental selves). Saya membayangkan apa yang Anda pikirkan, terutama mengenai apa yang Anda pikirkan tentang apa yang saya pikirkan, terutama mengenai apa yang saya pikirkan tentang apa yang Anda pikirkan.”

Jadi, menurut Cooley, tugas fundamental dari sosiologi ialah untuk memahami sifat organis dari masyarakat sebagaimana dia berlangsung melalui persepsi-persepsi individual dari orang lain dan dari diri mereka sendiri. Jika sosiologi hendak memahami masyarakat, dia harus mengkonsentrasikan perhatiannya pada aktivitas-aktivitas mental dari individu-individu yang menyusun masyarakat tersebut. “Imajinasi yang saling dimiliki oleh orang-orang merupakan fakta-fakta yang solid dari masyarakat… Masyarakat adalah sebuah relasi di antara ide-ide yang bersifat personal.”Dalam konsep The Looking-Glass Self (Diri Yang Seperti Cermin Pantul), menurut Cooley, institusi-institusi sosial yang utama ialah bahasa, keluarga, industri, pendidikan, agama, dan hukum. Sementara institusi-institusi tersebut membentuk ‘fakta-fakta dari masyarakat’ yang bisa dipelajari oleh studi sosiologis, mereka juga merupakan produk-produk yang ditentukan dan dibangun oleh pikiran publik. Menurut Cooley, institusi-institusi tersebut merupakan hasil dari organisasi dan kristalisasi dari pikiran yang membentuk bentuk-bentuk adat-adat kebiasaan, simbol-simbol, kepercayaan-kepercayaan, dan sentimen-sentimen perasaan yang tahan lama.

Oleh karena itu, institusi-institusi tersebut merupakan kreasi-kreasi mental dari individu-individu dan dipelihara melalui kebiasaan-kebiasaan manusiawi dari pikiran yang hampir selalu dilakukan secara tidak sadar karena sifat kedekatannya dengan diri kita (familiarity). Seperti yang ditegaskan oleh Cooley, ketika institusi-institusi masyarakat dipahami terutama sebagai kreasi-kreasi mental, maka individu bukanlah semata-mata ‘efek’ dari struktur sosial, namun juga merupakan seorang kreator dan pemelihara struktur sosial tersebut.

Intinya, Cooley mengkonsentrasikan kemampuan-kemampuan analitiknya terhadap perkembangan dari diktum fundamentalnya, yaitu “Imajinasi-imajinasi yang saling dimiliki oleh orang-orang merupakan fakta-fakta yang solid dari masyarakat.” Dalam bukunya yang pertama, Human Nature and the Social Order, dia terfokus pada teori mengenai diri-yang-bersifat-sosial (social-self), yakni makna “Aku” sebagaimana yang teramati dalam pikiran dan perbincangan sehari-hari.

Cuplikan dari buku karangan Riyadi Soeprapto. 2001. Interaksionisme Simbolik Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.

____________________________
[1] M. Francis Abraham. 1982 Modern Sociological Theory (An Introduction). Oxford: Oxford University Press. Chapter 8. Simbolic Interacsionism.

[2] Ibid.

[3] Ibid

[4] Horton, Paul B dan Chester L. Hunt. 1984. Sociology. Jakarta: Penerbit Erlangga.

[5] KJ Veeger. 1985. Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu – Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia. Hlm 224 – 226.

[6] Ryadi Soeprapto,. 2000. Interaksionisme Simbolik, Perspektiof Sosiologi Modern. Malang: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.

[7] Francis, M. Abraham (1982). Op. Cit.

semangat lagi buat ngerjain SKRIPSI

Alhamdulillah hari ini aku udah setengah menyelesaikan bacaan disertasi Pak Putre yang telah dibukukan. Tapi ada hal yang mengganjal di pikiranku tentang sosiologi sastra. Apa yang membedakan goldman dengan Peter L. Berger? Satu sisi aku masih dalam kegelapan menyingkap pemikiran kedua orang itu…aku harus lebih bersemangat lagi nieh… setelah ketemu pak Lis ada pencerahan sedikit, beliau ternyata memiliki buku Peter L. Berger. Semoga bisa membantuku memecahkan misteri ini

Senin, 28 September 2009

ungkapan hati hari ini

Hari ini aku kebingungan lagi,
Sudah siap-siap mengerjakan skripsi, eh malah ngelantur kemana-mana
Padahal mimpiku menunggu untuk aku raih……
Ya Allah berilah kekuatan dan perlindungan-Mu agar aku bisa membahagiakan ortuku..
Sudah setengah semester ini skripsiku tak tinggalkan begitu saja….
Tinggal tiga bulan lagi aku harus segera selesai…..

Rabu, 16 September 2009

Seks dan Horor dalam Film Indonesia

“Yang memesona saya sepanjang hidup adalah cara masyarakat menjadikan dunia mereka bisa dipahami” (Roland Barthes ketika menulis esai “What Criticsm”)

Perbincangan mengenai “budaya pop” dan “budaya agung” semakin hari semakin mengundang perhatian. Banyak buku dan artikel yang menulis tentang budaya-budaya telah bermunculan, salah satunya yang adalah Popular Culture in Indonesia: Fluid Identitas in Post-authoritarian Poltics karya Ariel Heryanto. Buku ini berisi tulisan yang membahas khusus kebudayaan popular di Indonesia, seperti kontes Indonesian Idol, ulasan gosip di televisi, hingga munculnya “demam” Meteor Garden di masyarakat.

Budaya pop seringkali di-versus-kan dengan budaya agung karena ada anggapan bahwa budaya pop adalah budaya rendahan yang tidak perlu di perhatikan. Padahal jika ditelisik lebih jauh budaya pop adalah budaya yang dilakukan masyarakat sehari-hari, lebih popular dan lebih mudah dilaksanakan. Pastinya budaya pop tak jauh dari namanya “budaya popular”.

Budaya agung selama ini masih disandarkan pada ideologi keagamaan dan status sosial tempo dulu (istana). Tidak dapat dipungkiri ideologi keagamaan sangatlah kuat dimana pun agama itu berada, tidak saja Islam melainkan semua agama di dunia. Pengharaman rokok, Face Book, tayangan ‘The Master’ tak lepas dari kontrol agama. Masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan wacana agama.

Masyarakat yang hidup di pulau Jawa, khususnya yang masih erat dengan kehidupan keraton Yogyakarta dan Surakarta, akan menemui pertentangan antara budaya pop dengan budaya agung. Segala tingkah polah masyarakat masih diukur dengan tingkah polah kedua kebudayaan keraton tersebut. Jika tidak sama dengan tolok ukurnya, masyarakat akan merasa bersalah dan malu.

Tema Seks dan Horor dalam Film Indonesia

Sepuluh tahun terakhir perfilman Indonesia seperti tuan di negeri sendiri. Puluhan film diproduksi dalam setahun, bahkan dalam sebulan bisa muncul tiga sampai empat film. Dekade ini merupakan dekade bangkitnya perfilman Indonesia.

Perjalanan film di Indonesia dimulai pada tahun 1950, tepatnya 30 Maret 1950. Tahun ini muncul film asli anak negeri yang berjudul Darah dan Doa dan Long March to Siliwangi karya Usmar Ismail. Yang paling menggembirakan film ini juga diproduksi oleh perusahaan film asli milik orang Indonesia (pikiranrakyat.com).

Bangkitnya film-film lokal perlu disyukuri karena hal tersebut menandakan bahwa gairah kreatifitas anak negeri mulai bangkit. Para produser dan pembuat film semakin bersemangat dalam produksi film. Pun demikian dengan masyarakat jika dahulu menonton film dibioskop hanyalah milik orang atas, sekarang orang-orang “pedalaman” pun berbondong-bondong masuk bioskop (melihat antusiasme dalam film Laskar Pelangi).

Minggu ini ada sekitar sembilan judul yang diputar di bioskop di Surabaya. Khusus film Indonesia berjumlah empat buah, yaitu Capres, Queen Bee, Virgin 2, dan Pocong Kamar Sebelah. Dua film terakhir yang tersebut diatas merupakan film berbau seks dan horor. Dari judulnya saja sudah banyak yang mafhum. Munculnya film-film bertema seks dan horor memunculkan beragam tanggapan. Ada yang pro dengan alasan bahwa munculnya film ini merupakan akibat dari mahalnya biaya produksi, dengan minimnya produksi diharapapkan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Tapi banyak sutradara maupun produser Indonesia akan bertanya: buat apa susah-susah jika paha dan dada saja sudah laku dijual? (Dwi Arjanto dan Fitri Oktarini (Tempo News Room).

Lain lagi yang kontra, mereka beranggapan bahwa film bergenre seperti ini akan merusak moral masyarakat. Betapa tidak jika hampir tiap bulan masyarakat digerojok film yang demikian. Bahkan tidak jarang film bertema seks dan horor dilarang diputar atau dicabut dari peredaran (contoh kasus dari film Buruan Cium Gue).

Kenapa tema-tema film ini muncul bertubi-tubi bahkan seperti tidak pernah akan habis? Pertanyaan seperti ini menarik sekali untuk diperbincangkan.

Masyarakat Indonesia sangatlah dekat dengan horor dan seks. Ketika penulis masih kecil hingga sekarang masih sering mendengar hal-hal yang berbau mistis, baik dari sumber langsung maupun tidak langsung. Waktu ngopi tidak jarang pembicaraan mengarah pada tema horor. Pembicaraan ini bisa memakan waktu berjam-jam bisa-bisa menjelang bubaran.

Dunia seks tidak juga jauh dari masyarakat Indonesia. Pada waktu kuliah besar bersama peneliti dari Belanda yang diadakan pada 25 Mei 2009, ia menceritakan fenomena relief yang ada di beberapa candi di Jawa Timur. Dari penelitiannya ia menemukan bahwa tindakan seks dilakukan sebagai pengejawentahan seseorang untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam sebuah bukunya Folklor dan Ilmu Gosip James Danandjaja juga menuliskan bagaimana ada rumah kosong di daerah Surabaya yang penghuninya adalah hantu yang cantik-cantik. Pada malam purnama hantu-hantu tersebut akan mencari pasangan dan diajak kencan. Dalam cerita tersebut seorang pelaut Amerika pernah menjadi korban hantu cantik tersebut.

Kembali ke masalah film bertema horor dan seks. Munculnya tidak serta merta tanpa alasan. Seperti yang telah saya paparkan di atas, bahwa munculnya tema ini adalah untuk menyiasati mahalnya biaya produksi sebuah film. Tentu saja mereka ingin menciptkan sebuah film dengan biasa seminimal mungkin dan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.

Tema Seks dan Horor tahun 70 hingga 80-an

Film yang bertemakan seks dan horor bukanlah hal yang asing di mata masyarakat Indonesia. Film-film sejenis ini pernah muncul dekade 70 dan 80-an. Waktu itu dalam setahun bisa mencapat ratusan film yang sejenis. Film yang mendapatkan apresiasi tinggi adalah Inem Pelayan Seksi karya Nya Abbas, belum lagi dengan film-film yang digawangi Trio Warkop DKI.

Salah satu pakar perfilman asal Yogyakarta mengatakan bahwa adegan-adegan seks adalah bumbu untuk memancing tawa penonton. Apakah hal itu benar adanya, atau ada alasan lain yang menjadi sebab munculnya beberapa film bertemakan demikian.

Dekade 80-an Indonesia adalah salah satu kekuatan politik dan ekonom dikawasan asia. Peran Indonesia begitu diperhitungkan dalam percaturan politik dan ekonomi dunia. Pada era ini bisa dikatakan era keemasan Indonesia (orde baru). Indonesia periode ini adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Banyak mahasiswa yang berdatangan dari kawasan Asia Tenggara untuk belajar. Selain itu banyak guru dan dosen yang dikirim keluar negeri khususnya Malaysia.

Kekeuatan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial keagamaan tidak serta merta disenangi oleh negara-negara lain. Banyak yang menginginkan Indonesia terpecah belah dan masyarakatnya miskin. Jika Indonesi bisa melanggengkan kejayaannya maka bisa dianggap berbahasa bagi negara-negara maju (Eropa Barat dan Amerika).

Sejak lama Indonesia menjadi Battle of War antara dua kekuatan besar dunia (komunis dan liberalis). Sengketa Papua adalah kasus pertama dalam perebutan wilayah (perang idealisme). Sengketa timur-timur adalah lanjutan dari kasus yang menimpa papua. Barat (dalam hal ini adalah Eropa dan Amerika) habis-habisan membantu agar Timor-Timur tidak dikuasai oleh Komunis. Jika timor-timur dikuasai oleh komunis negara-negara Barat akan terkurangi pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik.

Periode 80-an adalah momentum orang Barat untuk memasukkan wacana-wacana liberal yang mereka miliki. Di saat ekonomi sudah mapan orang kebanyakan tidak akan berpikir kritis dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sedikit demi sedikit orang Indonesia menerima pengaruh Barat yang berupa kebebasan dalam bermasyarakat.

Pengaruh atau perubahan wacana masyarakat dalam hal seks dan horor tidak dapat di rasakan dampaknya dalam waktu yang dekat. Tetapi setelah tiga dekade berlalu masyarakat Indonesia mulai menerima segala pengaruh tanpa pengkritisan telebih dahulu, masyarakat permisif. Dengan sering melihat adegan sensual dan anarkis masyarakat Indonesia tanpa sadar tergiring untuk ramai-ramai mengikuti kedua hal tersebut. Contoh yang paling menancap dalam pikiran penulis adalah tragedi 98, dimana banyak sekali tindakan anarkis pelaku dan yang paling menyedihkan adalah kasus perkosaan yang dialamai masyarakat etnis Tionghoa.

Film tema Seks dan Horor dekade 2000-an

Setelah sempat mengalami kemandegan periode 90-an, film bertema seks dan horor muncul lagi pada dekade 2000-an ini. Film Jelangkung Karya Rizal Mantovani adalah pendobrak film horor periode ini. Setelah ini film-film horor tampaknya menemukan momentum kebangkitan kembali. Film-film seperti bak mengulang periode sebelumnya bahkan bisa dikatan lebih berani menampilkan tubuh pemerannya. Di bawah ini penulis cuplikkan beberapa percakapan tentang film yang bertema seks:

Mau Lagi, dicekal loch. Katanya terlalu vulgar” informasi ini tersebar, muncul di sela-sela percakapan harian dua sahabat. Sedikit banyak ungkapan di atas menyiratkan penyesalan, mungkin sesal karena tak sempat menonton. Ada banyak lagi ungkapan para penggila film dalam negri. Semisal, “Udah lihat Jakarta Undercover ? Luna Maya-nya Hot. Jadi penari striptise”. Atau “Gila, Dewi Persik di Tali Pocong Perawan. Berani banget..!!!”. Mungkin juga “Tahu gak nama artis yang maen di Kawin Kontrak, itu loch yang sexy, berani buka-bukaan”.

Itulah komentar-komentar seputar dunia perfilman Indonesia. Sedikit banyak komentar-komentar itu memperlihatkan bagaimana kecenderungan konsumen film di Indonesia. Ada banyak informasi yang bisa diceritakan dari sebuah film, tapi tampilan berani nan vulgar bahkan seks sekalipun menjadi bumbu yang menarik untuk ditonton sekaligus diceritakan.

Setelah reformasi, keadaan Indonesia bisa dikatakan semakin membaik. Dunia Pers juga banyak mendapatkan kebebasan. Begitu juga dalam ranah lainnya. Di tengah arus demokrasi yang mulai berjalan dengan baik, tema film seks dan horor bukan lagi menjadi alasan untuk hiburan atau sekadar untuk tertawa bagi masyarakat melainkan juga untuk memainkan wacana ditangah konstelasi politik yang semakin memanas.

Riuhnya film tema demikian juga mengikut ke dalam kehidupan para politikus. Kehidupan keluarga dan cinta mereka benyak samanya dengan dunia perfilman. Perselingkuhan anggota DPR dengan pedangdut, PSK, bahkan ada pejabat yang “bermain” seorang Caddy pun sudah banyak di konsumsi masyarakat. Masyarakat semakin terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Masyarakat sangat mudah digiring untuk mengikuti wacana yang dilontarkan oleh politikus. Ketika para pejabat mendapatkan masalah, masyarakat tidak terlalu mengusik karena sudah ada lahan lain yang perlu diperdebatkan seperti munculnya fim ML, Basahh, Mupeng dan lain-lain.

Alasan selanjutnya adalah dengan kedekatan “emosi” antara masyarakat dengan dua hal tersebut bisa saja sebagai rasionalisasi. Dengan dekatnya masyarakat diharapkan akan mampu menarik animo masyarakat untuk datang ke bioskop. Hal ini sangatlah berhasil melihat jumlah pengunjung dalam film bertema seks dan horor.

Kedua alasan di atas merupakan rujukan terhadap produser dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat George Herbert Mead, dkk. tentang interaksi simbolik antara produser, film dan masyarakat. Interaksi simbolik ini dikembangkan atas dasar teori pragmatik. Adapun ciri tori pragmatik adalah:

  1. Relalitas pada dasarnya tidak berada di luar dunia nyata, relitas diciptakan secara kreatif pada saat bertindak.
  2. Manusia mendasarkan pengetahuannya mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti berguna.

Sang produser membuat film untuk mendapatkan keuntungan sedangkan masyarakat melihat film berdasarkan kedekatan dan kenyamanan yang dibangun sekian lama demi mendapatkan kepuasan batin. Implikasi metodologis interaksi simbolik adalah dimanfaatkannya pemahaman dengan memberikan intensitas pada peranan tokoh-tokoh, bukan status.

Menurut Ritzer (2004:270), istilah interaksi simbolik pertama kali dikemukakan oleh Blumer tahun 1937, sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan fungsionalisme struktural yang memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang melahirkan perilaku manusia, seperti norma dan rangsangan eksternal. Unit analisis interaksi simbolik adalah tindakan-tindakan, bukan person atau psike.

Dengan adanya hubungan ini Denzin memiliki harapan interaksi simbolik untuk memberikan perhatian pada budaya populer, teknologi komunikasi, dan cara-cara terknologi itu menghasilkan realitas serta menggambarkan realitas.

BUKU ACUAN

Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Bandung: Jalasutra

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultral Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Danandjaya.

Pikiranrakyat.com

MBM Tempo. Dwi Arjanto dan Fitri Oktarini (Tempo News Room)